
MEMPAWAH – Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD dr. Rubini Mempawah kembali menunjukkan komitmennya dalam upaya pemberantasan penyakit menular. Bertempat di ruang tunggu poliklinik, PKRS mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai penanganan pasien Tuberkulosis (TBC) yang disampaikan langsung oleh perawat ahli dari Poli Paru.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mendalam kepada pasien dan keluarga pasien mengenai pencegahan, pengobatan, hingga pentingnya pola hidup sehat dalam memutus rantai penularan TBC di lingkungan masyarakat.
Mengenal Tuberkulosis: Lebih dari Sekadar Batuk Biasa
Dalam penyuluhan tersebut, dipaparkan bahwa Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meski umumnya menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti tulang, kelenjar getah bening, hingga selaput otak.
1. Gejala dan Cara Penularan
Masyarakat dihimbau untuk waspada jika mengalami gejala berikut:
• Batuk berdahak terus-menerus (selama 2-3 minggu atau lebih).
• Demam meriang dalam jangka waktu lama.
• Nyeri dada dan sesak napas.
• Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan nafsu makan berkurang.
• Keluar keringat di malam hari tanpa aktivitas fisik.
Penularan terjadi melalui udara (airborne) ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara, sehingga percikan dahak (droplet) yang mengandung bakteri terhirup oleh orang di sekitarnya.
2. Siapa yang Berisiko?
Siapa pun bisa terkena TBC, namun risiko lebih tinggi pada:
• Orang dengan sistem imun rendah (seperti penderita HIV/AIDS atau diabetes).
• Anak-anak dan lansia.
• Perokok.
• Orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk dengan sirkulasi udara buruk.
Pengobatan: TBC SO vs TBC RO
Materi inti penyuluhan menekankan pada perbedaan jenis TBC dan prosedur pengobatannya:
• TBC Sensitif Obat (SO): Kondisi di mana bakteri masih ampuh dibunuh dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama. Pengobatan biasanya berlangsung selama 6 hingga 9 bulan secara rutin tanpa putus.
• TBC Resistan Obat (RO): Kondisi di mana bakteri sudah kebal terhadap satu atau lebih jenis OAT. TBC RO jauh lebih berbahaya dan memerlukan pengobatan yang lebih lama (9-24 bulan) dengan dosis obat yang lebih kuat.
Mengapa Bakteri Menjadi Resistan (Kebal)? Penyebab utama TBC RO adalah ketidakpatuhan pasien dalam meminum obat, seperti sering lupa, menghentikan dosis sebelum waktunya karena merasa sudah sehat, atau cara minum obat yang tidak tepat.
Efek Samping Obat: Pasien diingatkan bahwa selama masa pengobatan mungkin muncul efek samping seperti mual, gangguan penglihatan, kesemutan, atau air seni berwarna kemerahan. Jika hal ini terjadi, pasien diminta segera berkonsultasi dengan petugas medis di Poli Paru.
Langkah Pencegahan dan Gaya Hidup Sehat
Penyuluhan ditutup dengan simulasi Etika Batuk yang benar:
1.Gunakan masker.
2.Tutup hidung dan mulut dengan lengan dalam atau tisu saat batuk/bersin.
3.Segera buang tisu ke tempat sampah.
4.Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Gaya Hidup Sehat untuk Pencegahan:
• Memastikan rumah memiliki ventilasi udara yang baik agar sinar matahari dapat masuk (bakteri TBC mati terkena sinar matahari langsung).
• Mengkonsumsi makanan bergizi untuk memperkuat imun.
• Memberikan vaksinasi BCG pada bayi.
• Tidak merokok.
Dengan adanya penyuluhan ini, RSUD dr. Rubini berharap angka kesembuhan pasien TBC terus meningkat dan masyarakat semakin proaktif dalam melakukan deteksi dini jika menemukan gejala TBC di lingkungan keluarga.




